Ada banyak sekali tipe jaket populer di pasaran. Mulai dari bomber, denim, hingga jaket kulit dengan karakter masing-masing. Kendati begitu, si legendaris yakni jaket anorak tampaknya punya eksistensi yang hampir tak pernah tergeser.
Modelnya cukup sederhana namun sangat ikonik. Bahkan memiliki nilai historis yang menarik. Tidak heran jika anorak tetap menjadi pilihan utama di era sekarang. Mari kita ulas lebih detail.

Jaket Anorak dan Asal Usulnya
Bagi yang belum tahu, pakaian hangat anorak berasal dari budaya Inuit. Sebuah suku asli di wilayah kutub seperti Greenland, Kanada utara dan Alaska. Pada masa lalu, penduduk Inuit membuat anorak dari kulit hewan layaknya anjing laut atau caribou.
Bahan tersebut masyarakat pilih karena dapat menahan angin ekstrem dan suhu dingin yang sangat rendah. Mereka biasanya melapisi bagian luarnya dengan minyak hewan agar lebih tahan air. Menjadikannya perlindungan mumpuni saat berburu di lingkungan bersalju.
Nama “anorak” sendiri berasal dari bahasa Greenlandic, anoraq, yang berarti “jaket”. Meski awalnya merupakan pakaian tradisional kutub, anorak kemudian diadaptasi oleh para penjelajah Eropa pada awal abad ke-20. Khususnya bagi yang membutuhkan pakaian ringan namun mampu menghadapi cuaca buruk.
Seiring berjalannya waktu, anorak berkembang menjadi model modern dengan bahan sintetis yang lebih efisien. Seperti halnya nilon, poliester, atau kombinasi bahan tahan cuaca lainnya.
Karakteristik Pakaian Hangat Anorak
Walaupun desainnya bisa sedikit berbeda antar merek, jaket anorak memiliki beberapa ciri khas yang membuatnya mudah dikenali.
1. Model Pullover (Disarungkan)
Berbeda dengan jaket biasa yang menggunakan resleting penuh, anorak umumnya tidak memiliki bukaan full di bagian depan. Pemakainya harus menarik atau menyarungkannya melalui kepala, mirip seperti memakai hoodie. Inilah yang menjadikan anorak lebih mampu menahan angin, karena minim celah udara di bagian depan.
2. Terdapat Kapucon (Hood)
Ciri lain yang tidak bisa dipisahkan adalah kapucon. Kapucon pada anorak biasanya bisa diatur dengan tali serut agar lebih rapat. Tujuannya yaitu membantu melindungi kepala dari hembusan angin atau hujan ringan.
3. Saku Kanguru atau Saku Depan Besar
Saku depan besar berbentuk horizontal atau kangaroo pocket sering menjadi identitas kuat jaket ini. Selain praktis untuk menyimpan barang, saku tersebut juga menjadi elemen estetika yang menonjol.
4. Bahan Ringan namun Tahan Angin
Anorak modern terbuat dari bahan seperti ripstop nylon, polyester, atau kombinasi kain teknis lain. Terutama yang bersifat tahan angin, water-repellent, dan mudah dikeringkan. Bobotnya ringan sehingga nyaman untuk mobilitas tinggi di berbagai kondisi.
5. Tali Serut di Pinggang atau Hem
Beberapa model memiliki tali serut di bagian bawah untuk menyesuaikan ukuran. Serutan dari tali ini sekaligus menghindari angin masuk dari bagian bawah jaket. Sehingga pengguna bisa semakin nyaman menggunakannya.
Kini Jadi Tren Pakaian Para Pendaki Gunung
Di Indonesia, jaket anorak semakin populer di kalangan pendaki gunung dalam beberapa tahun terakhir. Alasannya jelas karena praktis, fungsional dan cocok untuk cuaca gunung yang tidak menentu.
Seperti review salah seorang pengguna di kanal YouTube Outdoors with Kevin. Menurutnya, produk anorak yang ia pakai sangat efektif untuk menahan angin kencang di area terbuka seperti punggungan gunung. Bahannya yang ringan membuatnya mudah dibawa tanpa menambah beban ransel. Selain itu, kemampuan water-repellent pada sebagian besar anorak modern membantu pengguna bertahan dari hujan gerimis atau kabut tebal. Kantong bagian depannya pas untuk menyimpan sejumlah barang kecil termasuk sebuah iPhone.
Umumnya, banyak pendaki menjadikan anorak sebagai salah satu lapisan outer ketika melakukan kegiatan luar ruangan. Misalnya trekking, summit attack, atau aktivitas ringan di camp. Bahkan di luar konteks pendakian, anorak kini juga sering dipakai untuk kegiatan harian berkat tampilannya yang stylish dan minimalis. Ini juga mudah dipadukan dengan berbagai gaya pakaian.
Perbedaan Anorak dan Parka
Banyak orang sering menyamakan anorak dengan parka karena keduanya sama-sama berkapucon dan dirancang untuk cuaca buruk. Namun sebenarnya, terdapat beberapa perbedaan penting:
Salah satunya, anorak tidak memiliki resleting penuh. Sedangkan jaket parka biasanya memiliki resleting atau kancing penuh di bagian depan sehingga lebih mudah dipakai.
Tingkat insulasi anorak biasanya lebih ringan dan dirancang sebagai lapisan penahan angin atau hujan. Di sisi lain, parka tergolong jaket musim dingin yang tebal dan memiliki insulasi kuat, cocok untuk suhu sangat rendah.
Panjang jaket anorak cenderung sepanjang pinggang atau sedikit bawah pinggang. Lain dengan parka yang lebih panjang. Bisa sampai menutupi pinggul hingga paha agar memberikan perlindungan maksimal dari cuaca dingin.
Dengan karakteristik uniknya, sejarah yang panjang, serta fungsi serbaguna, tidak mengherankan jika jaket anorak terus mendapatkan perhatian. Terlebih dari pencinta outdoor maupun penggemar gaya kasual. Siluetnya yang klasik namun praktis membuat jaket ini tetap menjadi pilihan yang relevan hingga hari ini.



